MENGENAL ULAMA NUSANTARA (KH. Ma’mun Nawawi/Mama’ Cibogo, Bekasi)


MENGENAL ULAMA NUSANTARA (KH. Ma’mun Nawawi/Mama’ Cibogo, Bekasi)

YPI. Al-Kamiliyyah Online (4/9). Beliau dilahirkan di kampung Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M. pada usia 13 tahun beliau tamat sekolah dengan hasil diploma satu. pada usia 15 tahun beliau melanjutkan pesantren ke sempur plered sampai 7 tahun. Kemudian dilanjutkan ke Mekkah Musyarofah selama 2 tahun.

Selama di Mekkah beliau berguru pada lebih dari 13 Muallif, di antaranya Sayyid Alwi Al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Athorid Al-Bogori. sekembalinya dari Mekkah beliau melanjutkan studinya ke Jawa ( usia 24 tahun) di Jombang Kediri di bawah asuhan Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, kemudian ke Syaekh Ihsan Jampes dan yang lainnya selama setahun.
Beliau belajar falak ke Habib Utsman Jakarta,Termas Jatim dan Mualif Kitab Sullamunnayyiroin.

Pada usia 25 tahun muqim di kampung Maja Pandeglang selama 2 tahun.Kemudian kembali ke Kampung asal Cibogo Cibarusah pada tahun 1359 H/1940 M mendirikan Pondok Pesantren Al-Baqiyatussholihat tepatnya pada bulan Rajab 1359 H.
Beliau wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H jam 01.15 bertepatan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 61 tahun.

Peninggalan beliau adalah Pondok Pesantren yang saat ini diteruskan oleh putranya KH.Jamaludin Nawawi. beliau juga meninggalkan karya-karya tulis di antaranya At-Taisir Fi Ilmi Falak, Bahjatul Wudhuh,Manasik Haji, Khutbah JUm’at,Kasyful Humum, Majmu’atu da’wat, Risalah Zakat, syair qiyamat, Risalah Syurbuddukhon dll.

Pada masa perang kemerdekaan beliau juga mengadakan pelatihan militer santri Hizbullah di Cibarusah yang kemudian di kirim ke Bekasi untuk menghadapi tentara sekutu secara frontal di bawah komandan yang juga temen seperjuangannya yang dikenal sebagai macan dari Bekasi yaitu KH.Nur’Ali yang baru-baru ini mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Beliau dilahirkan di kampung Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M. pada usia 13 tahun beliau tamat sekolah dengan hasil diploma satu. pada usia 15 tahun beliau melanjutkan pesantren ke sempur plered sampai 7 tahun.kemudian dilanjutkan ke Mekkah Musyarofah selama 2 tahun. Selama di Mekkah beliau berguru pada lebih dari 13 Muallif, di antaranya Sayyid Alwi Al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Athorid Al-Bogori. sekembalinya dari Mekkah beliau melanjutkan studinya ke Jawa ( usia 24)

Maka sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam, KH. Raden Anwar yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ariini, mengutus anaknya yang bernama Raden Ma’mun Nawawi untuk belajar agama di pesantren. Maka satu-persatu pesantren disambangi untuk digali ilmunya, mulai dari Pesantren KH. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur, Pesantren Syekh Ihsan Jampes (Pengarang Kitab Siraj al-Thalibin) di Kediri, hingga Pesantren Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered, Sempur, Bandung.

Nyantri Raden Ma’mun Nawawi tidak berhenti sampai di situ. Setelah itu, beliau belajar lagi ke Pesantren Syekh Mansyur (pengarang Sulam al-Nairen) di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sulam al-Nairen berisi tentang ilmu falak. Oleh Raden Ma’mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja.

Setelah dianggap bisa dan memadai beradaptasi untuk mengembangkan dakwah Islamiyah, Raden Ma’mun Nawawi diminta oleh mertuanya, Tubagus Bakri untuk mendirikan pesantren di Pandeglang, Banten. Namun, sekitar dua tahun kemudian, beliau diminta oleh ayahnya, KH.Raden Anwar untuk kembali ke kampung halamannya di Cibogo, Cibarusah, untuk mendirikan pesantren. Atas biaya sang ayah, maka berdirilah Pesantren Al-Baqiyatussholihat pada tahun 1938. Seluruh santri di Pesantren Pandeglang ikut gabung ke Pesantren Al-Baqiyatussholihat ini.

Pada masa keemasannya, pesantren ini pernah menampung sekitar 1000 santri dalam satu angkatan. Bahkan, pesantren ini sempat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak (Hisab). Ketika berbicara masalah pesantren ini, maka yang muncul adalah Pesantren Ilmu Falak. Karena itu, ketika pemerintah Bekasi, Bogor, Jakarta dan sekitarnya membutuhkan masalah perhitungan falakiyah, selalu merujuk ke pesantren ini. Sekarang masalah falakiyah juga masih diajarkan di sini.

KH.R.Ma’mun Nawawi meninggal dalam usia 63 tahun (1912-1975). Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. “Angka-angka ini seperti kebetulan saja,” ujar KH.R. Jamaluddin yang merupakan keturunan ke-11 dari Maulana Hasanuddin dan ke-24 dari Rasulullah ini. Sebagian kitabnya dijual di Toko Arafat Bogor, seperti  Kasyful Gumum wal Gumum(tentang doa), Hikayatul Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama dahulu), Idho’ul Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yg mengandung akronim) dan sebagainya.

Makam KH.R.Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan seringkali dikunjungi orang baik dari Banten atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid. Pada masa hidupnya beliau pernah berjuang bersama KH. Nur Ali (Pahlawan Nasional) dalam gerakan Hizbullah.

Sumber:

Group KH. Raden Ma’mun Nawawi bin KH. Raden Anwar

http://epholic.blogspot.com

About these ads

Posted on 4 September 2012, in Biografi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.418 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: