RESUME BUKU ETIKA PRODUKSI DALAM EKONOMI ISLAM-BAGIAN II


RESUME BUKU ETIKA PRODUKSI DALAM EKONOMI ISLAM-BAGIAN II

Oleh Ust. Adnan Sanusi*
 
 

CHAPTER III

KONSEP PRODUKSI ISLAM

  1. A.      Konsep Produksi

Padanan kata produksi dalam Islam adalah al-intaj dari akar kata nataja yaitu upaya mengambil manfaat dari sumber yang disediakan alam. Menurut Hamad, penggunaan kata intaj hampir tidak dikenal dalam literatur fiqh karena pembahasan para fuqaha lebih fokus pada hasil produksi. Oleh sebab itu, banyak fuqaha menggunakan kata at-tahsil sebagai padanan kata produksi. Secara umum, kegiatan produksi dalam Islam adalah aktivitas manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen.

Karena larangan Islam terhadap tindakan pemborosan maka efisiensi produksi memiliki dua perspektif, yaitu:

  1. Kuantitas output telah tetap (given) sementara biayanya belum tentu sehingga yang diupayakan adalah meminimalkan biaya. Dalam hal ini dapat diberlakukan kombinasi modal dan tenaga kerja untuk memproduksi output tetap
  2. Biaya telah fixed sementara kuantitas output-nya belum. Yang harus dilakukan adalah memaksimalkan output. Dalam konteks ini diberlakukan kombinasi modal dan tenaga kerja yang dapat ditambah untuk meningkatkan output.

Dalam ekonomi Islam, kegiatan produksi diwarnai sistem nilai syariah. Seluruh proses dan kegiatan produksi mengarah pada pemuliaan status manusia, peningkatan kesehateraan hidup, menghilangkan ketimpangan sosio-ekonomi, dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan kemandirian ekonomi. Islam mengenal kebutuhan berjenjang dan proses pemenuhannya menjadi tugas bersama masyarakat. Dalam pelaksanaannya, kegiatan produksi menekankan tingkat keuntungan jangka panjang demi kemaslahatan, kelangsungan bisnis, kriteria barang dan jasa yang halal dan baik. Dan menghindari spekulasi dalam pendanaan, investasi, ataupun mekanisme jual-beli.

Islam mengajarkan semua aktivitas yang dilakukan manusia berlandaskan prinsip etika. Islam menekankan moral-imperatif harus diberlakukan dalam kehidupan. Hal ini disebabkan ajaran Islam tidak pernah memisahkan ekonomi dengan sistem nilai. Di satu sisi, masyarakat diberi kebebasan untuk mencukupi kebutuhannya, di sisi lain selalu terikat dengan iman dan etika.

Kegiatan produksi dalam Islam tidak hanya menekankan permintaan, tetapi juga produktivitas produsen untuk menawarkan variasi barang dan jasa yang dibutuhkan. Berbeda dengan konsep penawaran konvensional yang mengacu pada hubungan harga dan jumlah penawaran, sisi penawaran Islam menekankan barang kebutuhan masyarakat. Kemampuan produsen dipahami mampu mempengaruhi permintaan pasar.

Menurut Nejatullah Siddiqi, secara luas tujuan produksi dalam Islam adalah:

  1. Memenuhi kebutuhan manusia seimbang. Memenuhi kebutuhan manusia secara seimbang jasmani dan ruhani adalah tujuan utama.
  2. Memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat adalah kebutuhan kolektif yang proses pemenuhannya dilakukan secara bersama atau oleh negara.
  3. Memepersiapkan persedian hari depan. Produsen dalam Islam berkepentingan menjaga keluhuran eksistensi manusia masa sekarang dan akan datang. Dalam hal ini, strategi investasi dan kepemilikan sarana produksi menjadi instrumen untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
  4. Memenuhi persedian bagi generasi yang akan datang. Eksistensi sumber daya ekonomi ditujukan untuk manusia dalam arti luas.
  5. Mencukupi sarana kegiatan sosial dan ibadah. Hasil produksi dalam Islam selalu memiliki makna religiusitas dan sosial yang tinggi. Islam tidak hanya menekankan profit tetapi juga benefit.
  6. B.       Faktor-Faktor Produksi

Faktor-faktor produksi merupakan instrumen kegiatan produksi yang disediakan alam atau diciptakan manusia untuk dipergunakan dalam memproduksi barang dan jasa. Faktor produksi disebut masukan yang secara umum terbagi dua yaitu faktor produksi yang tersedia secara asali dan faktor produksi yang diciptakan manusia.

Ketersediaan faktor produksi tidak sama dalam setiap wilayah. Hal ini menimbulkan kesenjangan ekonomi, dan kemiskinan yang akan menghantui negara dengan sumber daya alam berlimpah, tetapi belum bermanfaat. Pembahasan faktor produksi dalam Islam sangat variatif karena al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menyajikannya secara eksplisit.

Dengan melihat perkembangan kegiatan produksi yang semakin kompleks maka pembahasan ini mengkategorikan faktor produksi dalam empat kriteria yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, dan institusi. Maksud kategorisasi adalah ketersalinggantungan antar faktor produksi. Misalnya wilayah dengan sumber daya alam potensial belum tentu mampu mengelola kekayaannya jika tidak memiliki modal finansial. Juga kalau keberadaan institusi tidak mampu mengelola dan mendistribusikan.

Sumber daya alam disediakan bagi umat manusia harus mampu difungksikan secara maksimal agar berguna. Dalam kegiatan produksi Islam, keberadaan faktor produksi di atas karena keagungan statusnya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi. Sebagai salah satu faktor produksi, sumber daya alam menyediakan instrumen bagi manusia untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Di samping itu, kekayaan alam memberikan pengajaran tentang kebesaran Allah swt dan kewajiban manusia untuk memanfaatkan dan mengalokasikannya secara adil.

Suruhan moral dalam memperlakukan sumber daya alam adalah

  1. Memakmurkan sumber daya alam. Memakmurkan sumber daya alam merupakan kewajiban manusia (QS. Hud: 61).
  2. Larangan untuk merusak sumber daya alam. Larangan merusak sumber daya alam sebagai sumber kehidupan disebutkan Allah dalam QS. Al-Qashash ayat 77.

Begitu juga dengan sumber daya manusia yang dituntut untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam  pekerjaan. Dengan  demikian, pemilihan tenaga kerja yang handal dan profesional menjadi kriteria utama. Fazlur Rahman menyebutkan klasifikasi ini, yaitu:

  1. Berdasarkan keahlian dan ketrampilannya. Islam menjunjung tinggi nilai kerja dan output maksimal, sehingga kaum muslimin dituntut untuk belajar dan menekuni berbagai keahlian dan ketrampilan.
  2. Kesehatan fisik dan moral. Kekuatan fisik dan kejujuran merupakan kriteria pekerja yang handal dalam Islam.
  3. Akal pikiran yang baik. Akal pikiran yang baik (good personality) dibutuhkan untuk menggagas, inovasi, menilai mekanisme, dan hasil kerja dalam pekerjaan.
  4. Pendidikan dan pelatihan. Meningkatkan kualitas kerja secara kolektif dilakukan dengan serangkaian program pendidikan dan pelatihan.

Suruhan moral dalam mendayagunakan potensi sumber daya manusia dalam Islam adalah:

  1. Manusia menjadi faktor penting kegiatan produksi. Keberadaannya selain sebagai produsen juga menjadi penikmat hasil produksi.
  2. Aktualisasi kemampuan dan keahlan manusia dalam kegiatan produksi sangat penting karena statusnya sebagai pengelola sumber daya ekonomi yang disebutkan al-Qur’an sebagai ‘abd dan khalifah fi al-ardh.
  3. Senantiasa memperbaharui dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.
  4. Masyarakat Islam berkerja sama meningkatkan kapasitas dan etos kerja manusinya dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan.

Modal berkaitan dengan alat produksi yang dibutuhkan untuk membantu memproduksi barang dan jasa yang lain. Modal biasanya dibagi menjadi modal tetap dan modal gerak. Islam melihat modal yang dimiliki seseorang merupakan pendapatan individu atau masyarakat di luar pengeluarannya. Jika modal dimiliki masyarakat maka berkaitan dengan harta benda yang bernilai dan dimiliki secara kolektif. Adapun modal individu adalah harta yang dimiliki seseorang dengan harapan memberikan penghasilan dan nilai tambah.

Ada beberapa mekanisme untuk mengakumulasi modal bagi masyarakat Islam, 1). Zakat, 2). Transaksi mudharabah, 3). Kemitraan musyarakah, 4). Transaksi ijarah, 5). Transaksi murabahah, 6). Transaksi istishna, 7). Qardhul hasan, 8). Transaksi muzara’ah, dan 10). Pasar modal syaria’ah.

Suruhan moral dalam mencari dan mendayagunakan modal dalam Islam, sebagai berikut:

  1. Sebagai faktor produksi, keberadaan modal harus halal dan baik di mana cara perolehan dan penggunaannya mengikuti nilai-nilai syariat Islam
  2. Islam mengenal distribusi modal melalui jalur kerja sama antara masyarakat Islam baik dalam kegiatan bisnis, pertanian, perdagangan, dan sebagainya.
  3. Modal finansial dapat diakumulasikan melalui lembaga keuangan dan instrumen zakat dalam rangka menggali potensial ekonomi masyarakat.

Sebagai faktor penting dalam produksi, institusi berfungsi sebagai wadah kerja sama untuk menghasilkan barang kebutuhan, memobilisir pertumbuhan ekonomi masyarakat dan peningkatan kualitas hidup manusia. Pengembangannya tidak terlepas dari sistem managerial internal dan output-nya dalam konteks sosial kemasyarakatan. Output institusi adalah kebutuhan sosial yang sesuai dengan tujuannya berdasarkan kriteria etika dan moral organisasi. Atas dasar itu, institusi dalam Islam memilliki ciri, sebagai berikut.

  1. Kekuatan yang menggerakkannya adalah kerja sama di mana investasi dan akumulasi modal berdasarkan persekutuan usaha. Basis kegiatan produksi didasarkan pada ekuitas bukan pinjaman.
  2. Memperhatikan faktor manusia sebagai human capital. Institusi dalam Islam merupakan manifestasi keinginan bersma untuk mengaktualisasikan dirinya secara kolektif dengan tujuan syariah.
  3. Menekankan integritas moral dalam operasional institusi.
  4. Menekankan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejalan dengan maksimalisasi profit dan benefit.

Suruhan moral memaksimalkan potensi institusi dalam Islam, sebagai berikut:

  1. Suruhan bekerja sama dalam manajemen yang rapi dan profesional serta dalam mekanisme kemitraan institusi untuk saling meningkatkan kapasitas personalnya.
  2. Institusi dalam Islam memiliki tanggung jawab pengabdian pada Tuhan dengan menggungkan status dan keluhuran martabat manusia dalam mengimplementasikan visi, misi dan program institusi tersebut.
  3. Institusi memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat untuk memajukan dan mencerdaskan masyarakat tersebut.
  4. C.      Konsep dan Sistem Etika Produksi

Islam merupakan kekuatan moral yang mengarahkan perilaku dan kehidupan manusia untuk mencapai keseimbangan hidup. Islam mengajarkan semua aktivitas yang dilakukan manusia berlandaskan prinsip etika. Hal ini menegaskan bahwa sistem etika merupakan kebutuhan manusia. Manusia mengatur kehidupannya berdasarkan berbagai norma yang salah satunya adalah norma moral. Prinsip moralitas dalam al-Qur’an masih bersifat umum. Agar implementatif, perlu dijabarkan dengan penalaran akal.

Dewasa ini masyarakat dunia Islam menghadapi masalah kelangkaan sumber daya untuk mencukupi kebutuhan manusia. Masalah ini dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, memang secara de facto kebutuhan masyarakat modern semakin kompleks seiring dengan bertambahnya populasi manusia sehingga sumber daya ekonomi tidan mencukupi. Kedua, aktivitas ekonomi diarahkan untuk melakukan efisiensi penggunaan sumber daya. Konsep dan sistem ekonomi Islam harus mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat secara kontekstual.

*) Asatidz di PP. Al-Kamiliyyah

About these ads

Posted on 3 Oktober 2012, in Karya Dewan Guru, Resensi and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.418 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: