RESUME BUKU ETIKA PRODUKSI DALAM EKONOMI ISLAM-BAGIAN I


RESUME BUKU ETIKA PRODUKSI DALAM EKONOMI ISLAM-BAGIAN I

Oleh Ust. Adnan Sanusi* 
 

CHAPTER I

PENDAHULUAN

  1. A.      Pengantar

Pengabaian konsep produksi konvensional terhadap sistem nilai mengakibatkan mundurnya kualitas hidup manusia. Kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup menjadi isu internasional berkenaan dengan mandulnya sistem ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan hidup. Ekspansi kapitalisme global menyebabkan ketimpangan tingkat kesejahteraan antar belahan dunia.

Konsep produksi konvensional bermula dari masalah kelangkaan (scarcity) barang dan jasa dalam memenuhi keinginan manusia yang tak terbatas di mana kemampuan produksi terbatas. Dapat disimpulkan masalah mendasar sistem kapitalisme adalah mengupayakan persediaan sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan individu dengan memaksimalkan produktivitas untuk menghasilkan barang dan jasa.

Merosotnya tingkat kesejahteraan, patologi sosial (kemiskinan dan pengangguran), dan kerusakan lingkungan hidup semakin parah. Di sinilah perlunya pertimbangan moral (mmoral judgement) dalam kegiatan produksi. Data UNDP (United Nation for Development Programme) tahun 2004 memperlihatkan kondisi perekonomian dunia akibat ekspansi kapitalisme. Kondisi ini menghasilkan ketidakseimbangan sirkulasi kekayaan dan pendapatan.

Melihat peralihan paradigma produksi berkenaan dengan implikasi etis dari anomali ekonomi di atas maka konsep produksi dewasa ini semakin melihat pentingnya etika sebagai bingkai kegiatan produksi. Kaitan antara moralitas dan ekonomi telah lama menjadi wacana akademis. Emitay Etzioni melihat dimensi moral harus ditempatkan secara strategis dalam menjaga hubungan sosial kemanusiaan dalam bidang ekonomi.

Di dalam Islam dipahami hakikat produksi adalah mengelola sumber daya ekonomi sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan. Kebutuhan masyarakat serta urgensi barang dan jasa yang dihasilkan. Hal ini terlihat pada perintah untuk mengelola sumber daya alam sebagai sumber penghidupan (QS. al-Mulk: 15), kewajiban mendistribusikan kekayaan pada sesama manusia (QS. Al-An’am:165), dan sebagainya. Kategori-kategori ini bersifat umum sehingga memerlukan perumusan aksioma etis yang praktis dan universal. Al-Qur’an sebagai landasan ontologis sistem moral harus menempuh pengujian konsep dan daya tahan agar aplikatif dan dapat diejawantahkan dalam aktivitas kehidupan. Pengujian verifikatif menghasilkan aksioma moral dan pedoman berpikir dan bertindak bagi manusia.

  1. B.       Konsep Produksi dalam Akumulasi Pemikiran Islam

Monzer Kahf dalam artikelnya “The Theory of Production”, menggagas kegiatan produksi sebagai elan vital kebangkitan ekonomi masyarakat Islam. Kegiatan produksi merupakan kewajiban masyarakat Islam dalam mengambil manfaat dan mengelola sumber daya alam. Dalam pemikiran Khaf tujuan produk bukan hanya meraih keuntungan material melainkan peningkatan kesejahteraan individu dan masyarakat.

Dalam konteks Islam, tidak terjadi pemisahan. Konsep agama memberikan spirit pemberdayaan bagi manusia termasuk dalam perilaku ekonomi. Kehidupan manusia terikat dengan akidah, syariah, etika, dan tindakan. Kajian etika produksi ini berangkat dari pernyataan bahwa sistem nilai dan moralitas menjadi landasan ontologis kegiatan produksi. Sebagai landasan ontologis, sistem itu merupakan prasyarat yang harus dipenuhi manusia.

Etika produksi masuk dalam etika terapan (applied ethic) yang menenkankan pembahasannya pada perilaku produsen dalam menghasilkan barang dan jasa. Etika terapan digunakan untuk menilai sejauhmana pelaku produksi mampu mengimplementasikan tata cara dan mekanisme produksi yang benar sesua dengan tujuan kegiatan ekonomi secara umum yaitu membangun kesejahteraan manusia secara total.

CHAPTER II

KONSEP PRODUKSI KONVENSIONAL

  1. A.      Konsep Produksi Kapitalisme

Kapitalisem adalalah sistem sosial yang mendasarkan diri pada kepemilikan kekayaan pribadi. Sistem ini telah ada semenjak abad pertengahan akibat sekularisme dan pencerahan rasio manusia pada abad pencerahan. Kapitalisme menegaskan kebebasan individu untuk berproduksi tanpa intervensi pihak lain. Sistem ini berwujud pada kapitalisme liberalisme yang digagas Adam Smith (1723-1790) dan laissez-faire dari Jean Baptiste-Say (1767-1832)

Ada tiga fundamen yang dikemukakan Smith berkaitan dengan kebebasan alamiah ekonomi, yaitu:

  1. Kebebasan, hak untuk produksi dan menjual produknya menggunakan tenaga kerja, dan akumulasi kapital.
  2. Kepentingan pribadi, hak individu untuk berusaha sendiri dan membantu kepentingan orang lain.
  3. Persaingan, hak untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan

Kapitalisme menekankan hubungan individual. Individu adalah produsen dan konsumen yang masing-masing berdaulat. Sebagai produsen, individu bertindak rasioanl untuk meraih keuntungan maksimal serta merendahkan biaya produksi. Secara mendasar karakteristik kapitalisme adalah sebagai berikut:

  1. Sarana fundamental untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dengan cara melakukan produksi secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan supaya akselerasi dan ekspansi kekayaan mudah tercapai.
  2. Kebahagiaan individu akan terwujud jika kebebasannya tidak dihambat dalam melakukan kepentingan pribadi, serta mendayagunakan kekayaan.
  3. Inisiatif individu ditambah keputusan yang desentralisasi, serta mekanisme pasar kompetitif merupakan cara untuk mendistribusikan sumber daya yang efisien dan optimal
  4. Pemerataan distribusi dan alokasi sumber daya ekonomi dilakukan dengan meniadakan peran pemerintah dan penilaian kolektif masyarakat
  5. Melayani kepentingan pribadi oleh setipa individu secara otomatis melayani kepentingan sosial.
  6. B.       Konsep Produksi Sosialisme

Sosialisme mengajukan kritik terhadap kapitalisme mengenai model produksi dan non-intervensi pemerintah dalam mekanisme pasar. Meurutnya, kebebasan individu dan kepemilikan alat produksi menyebabkan distorsi sirkulasi kekayaan dan pendapatan. Secara umum, sosialisme mengkritik ekonomi pasar bebas sebagai imperalisme baru ekonomi. Mereka mengatakan kapitalisme tetap bertahan sampai hari ini karena industri dunia membutuhkan investasi jangaka panjang dan mengaitkan risiko bisnis dengan perdagangan internasional.

Pemikiran Karl Marx mengagungkan tenaga manusia sebagai sumber nilai komoditas sehingga produksi harus menyeimbangkan antara upah pekerja dan harga komoditasnya. Marx beranggapan hukum nilai produksi kapitalisme tidak mengutamakan nilai tukar tenaga kerja ini. Secara umum, karakter yang melekat pada sistem sosialisme adalah

  1. Penghapusan hak milik pribadi atas alat produksi. Kepemilikan pribadi menjadi hak milik negara yang memiliki hak mengawasi mekanisme produksi dan pelayanan kepentingan masyarakat.
  2. Perencanaan ekonomi yang sentralistis diberlakukan pada perusahhaan publik di mana asetnya dimiliki negara dan kebijakan ekonomi diputuskan oleh negara.
  3. Ekonomi pasar yang diatur dengan menerpakan kontrol harga dan keputusan yang berkaitan dengan aset produksi dimiliki negara.
  4. Kepemilikan pribadi dan masyarakat digabungkan, perencanaan industri menjadi subordinat mekenisme alokasi pasar.
  5. Keseluruhan proses produksi diarahkan pada pengabdian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat bukan untuk mencari untung.
  6. Motivasi kegiatan produksi adalah pelayanan sosial.

Dengan sistem ini, distribusi pendapatan antara pekerja dan pemilik kapital. Kegiatan produksi bertujuan mencukupi kebutuhan masyarakat di mana upah tidak tergantung pada pemilik modal tapi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja. Sosialisme menarik perhatian banyak orang karena upaya mengatasi ketimpangan distribusi pendapatan dan sirkulasi kekayaan, cara mengentaskan kemiskinan, dan sebagainya.

Walaupun demikian, secara epistemologis sosialisme mengandung kelemahan. Sosialisme tidak percaya pada kemampuan manusia untuk melakukan produksi bagi kesejahteraan hidup manusia. Setiap manusia dipahami tidak memiliki kapasitas dan motivasi untuk memberikan kebahagiaan dan memenuhi kepentingan masyarakat.

  1. C.      Konsep Produksi Negara Sejahtera

Sistem negara sejahtera (welfare-state) menjadi formula baru terhadap krisis internal kapitalisme dalam meningkatkan kesejahteraan individu. Pada beberapa sisi, sistem ini mengoreksi utopis sosialisme dalam mewujudkan kemakmuran masyarakat. Penekanan pada kesejahteraan hidup individu menjadi tema sentral sistem negara sejahtera. Konsep sejahtera dimaknai sebagai kemakmuran material bagi manusia. Untuk merealisasikannya, pemerintah dan pasar harus bekerja sama mengembangkan stabilitas ekonomi.

Penekanan konsep produksi negara sejahtera terletak pada efisiensi kegiatan produksi. Kriteria yang digagas adalah:

  1. Substitusi angka marginal dalam konsumsi identik bagi setiap konsumen. Tidak ada konsumen yang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan mengorbankan konsumen lain.
  2. Transformasi angka marginal dalam produksi identik bagi semua produk. Proses ini dilakukan dengan mengupayakan peningkatan produksi satu produk dan mengurangi produksi produk yang lain.
  3. Harga sumber daya marginal sama dengan penghasilan produk marginal bagi semua proses produksi. Cara yang diupayakan adalah produk barang marginal dari satu faktor harus sama bagi semua perusahaan.
  4. Substitusi angka marginal dalam konsumsi sama dengan transformasi angka marginal dalam produksi sehingga produksi berkaitan dengan keinginan konsumen.

Karakter spesifik yang melekat padad sistem negara sejahtera, yaitu: 1). Regulasi, 2). Nasionalisasi sektor industri, 3). Serikat pekerja, 4). Kebijakan fiskal, 5). Pertumbuhan ekonomi tinggi, dan 6). Kesempatan kerja penuh.

Secara konseptual, sistem ekonomi negara sejahtera memberikan angin segar bagi peningkatan kemakmuran dan stabilitas pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia. Namun, dominasi negara kaya dalam menancapkan ekpansi bisnisnya dengan model monopoli baru. Negara-negara miskin dan berkembang menjadi pasar potensial ekspansi bisnis negara kaya terutama sebagai konsumen dan penyedia bahan mentah. Kondisi ini melahirkan ketergantungan negara miskin dan berkembang kepada negara kaya dan lembaga internasional terutama dalam modal investasi dan transformasi teknologi.

*) Staf Asatidz (Pengajar) PP. Al-Kamiliyyah, Bekasi

Posted on 11 September 2012, in Artikel, Karya Dewan Guru, Resensi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s