GURU BARU ATAU BARU GURU


GURU BARU ATAU BARU GURU

“Refleksi Untuk Menjadi Pendidik Yang Berkarakter”[1]

Oleh : Jenal A. Nurfalah, S. Pd. I[2]

Prolog

Masalah pendidikan tak ubahnya bagai bola salju yang terus membesar jika ia mengelinding. Semakin dibiarkan, maka semakin komplek masalah yang akan terjadi di pendidikan. Subyektifnya bahwa belum ada solusi yang konkrit dan pas untuk menjawab semua permasalahan pendidikan yang ada. Kalaupun ada masih banyak kendala yang menghadang ketika akan di implementasikan ke dalam sistem. Kita mendengar adanya perubahan sistem pendidikan dari KBK ke KTSP, sertifikasi guru untuk memprofesionalkan guru, dana BOS untuk dana oprasional setiap sekolah dan bahkan peraturan pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagai kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Itulah beberapa solusi yang di tawarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan pendidikan dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang diharapkan bisa membekali masyarakat dengan seperangkat sikap, paradigma, nilai-nilai dan skill dalam rangka mengatasi berbagai persoalan hidup yang berguna di masa sekarang maupun di masa mendatang. Secara konseptual, pendidikan harus lebih terbuka bagi transformasi nilai-nilai baru yang membelenggu dan membebaskan. Di sisi lain, pendidikan diharapkan mampu merubah dan menyelamatkan manusia dalam mengarungi persoalan kehidupannya di masa depan.

Tujuan pendidikan selalu merekonstruksi pengalaman secara terus menerus yang bersifat progresif. Oleh karena itu, pendidikan diharapkan tidak hanya melakukan suatu transfer of knowledge yang dimiliki pendidik (guru) saja, tetapi ada yang lebih penting dari sekedar pengetahuan yaitu nilai dalam pendidikan itu  (transfer of value). Sehingga out put pendidikan sanggup untuk memetakan sekaligus menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu masyarakat. (Surawan, 2006 : 67)

Namun dalam realitanya, dunia pendidikan saat ini sedang dilanda kemelut yang memprihatinkan. Selain banyak pendidik (guru) yang belum melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran, tidak sedikit pula peserta didik merasa tertekan selama belajar karena banyaknya tugas dan ketatnya peraturan. Hal ini di perparah lagi dengan kasus-kasus tindak kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru di sebagian tempat.

Permasalaan dalam dunia pendidikan saat ini, mengakibatkan pendidikan semakin jauh dari realita sosial. Peserta didik dijejeli pelajaran dari pagi sampai sore, menghafal kosakata seperti kamus, jurnal dan lain sebagainya tetapi tidak pernah melihat perpustakaan. Mampu mengonversi Celcius menjadi Fahrenheit, tapi belum pernah melihat apalagi menggunakan Thermometer. Mereka hafal rumus senyawa kimia tapi tidak pernah praktek di laboratorium. Hal ini menyebabkan teori bukannya membumi, tetapi malah tercabut dari pengalaman keseharian. Pendidikan seolah-olah menjadi tidak bersentuhan dengan persoalan realitas sosial, sehingga ketika peserta didik terjun ke masyarakat mereka bingung harus berbuat apa.

Pendidik sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan haruslah memahami permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, karena pendidik salah satu faktor yang menentukan mutu pendidikan. Sehingga diharapkan guru mampu memberikan solusi dalam setiap masalah pendidikan. Guru baru atau baru guru adalah sebuah majas yang mendeskripsikan bahwa menjadi guru itu membutuhkan proses dan pemahaman teori yang mendalam. Tidak ada guru yang instan yang dikatakan profesional, semuanya membutuhkan proses untuk melekatkan nama ”baru buru” kepada setiap individu pendidik. Oleh karena itu, penjelasan dibawah ini mudah-mudahan menjadi refleksi kita bersama untuk menjadi pendidik yang berkarakter, guna mensukseskan pendidikan karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan saat ini.MOS Siswa-Siswi_3

Pembahasan

Ilmu sosial profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo, memberikan efek yang positif bagi kemajuan keilmuan di Indonesia. Kajian profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo berpijak pada QS. Ali Imran ayat 110 :

Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

 Terdapat tiga pilar utama dalam ilmu sosial profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo diantaranya yaitu; amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia. Nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. dan tu’minuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia. Berpijak dari teori tersebut, penulis mencoba untuk mendeskrifsikan bagaimana menjadi pendidik yang berkarakter sesuai dengan pemikirannya Kuntowijoyo.

Pendidik profetik merupakan pendidik yang mampu mengimplementasikan sifat humanis, liberasi, dan transendensi dalam setiap pembelajarannya. Ia mampu menggali rasa kemanusiaan peserta didiknya, ia mampu membebaskan peserta didiknya dari hal-hal yang dapat merugikan mereka, dan yang paling penting disetiap pembelajarannya pendidik profetik mampu mengantarkan peserta didiknya bersentuhan dengan kekuasaan Tuhan. Maka dari itulah gagasan pendidik profetik sangat penting untuk dikaji. Sebagai sebuah proses dalam mencerdaskan kehidupan manusia, sekaligus sebagai kebutuhan itu sendiri, maka pendidik haruslah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut meliputi; pendidik harus bersifat memanusiakan manusia (humanisasi), membebaskan manusia (liberasi), dan mengarahkan manusia kepada kebenaran yang hakiki, sumber kebenaran, sesuatu yang spiritualistik dan transendental (transendensi), sesuai dengan analisa pemikiran Kuntowijoyo.

  1. 1.     Pendidik yang Humanis

Tugas kemanusiaan adalah humanisasi, dalam al Qur’an dijelaskan bahwa manusia dapat jatuh ke tempat yang paling rendah (asfala safilin). Tugas mengangkat kembali manusia dari kejatuhan dapat dilakukan melalui agama, moral, dan juga pendidikan. Dalam hal ini yang diinginkan ialah agar melalui simbol-simbol pendidikan, manusia dapat diangkat kembali ke fitrah sebagai makhluk yang sebaik-baiknya, semulia-mulianya, dan bermartabat manusia.

Dapat dipahami bahwa Islam tidaklah bertentangan dengan pemikiran humanisme, tetapi sejalan dan mendukung pemikiran humanisme. Bahkan, Kuntowijoyo pernah mengatakan jika Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Ia juga menegaskan bahwa humanisme merupakan nilai inti dari seluruh ajaran Islam sebab agama adalah untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Pengamalan dalam beragama, disamping sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, juga diorientasikan untuk membebaskan manusia dari segala ketidakadilan, penindasan, dan kemiskinan. Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidak sesuai dengan missi tersebut.

Pendidikan juga harus mampu membimbing manusia untuk mengenal dan memperoleh sesuatu dari pendidikan, ia menjadi terbebas, bukan menjadi semakin terbelenggu. Pendidikan profetik juga membebaskan manusia dari setidak-tidaknya tiga hal; bebas dari ketidaktahuan, bebas dari pengetahuan yang keliru menjadi pengetahuan yang benar, dan bebas dari penindasan. Bebas dari ketidaktahuan berarti manusia dari tidak tahu akan menjadi tahu, bebas dari pengetahuan yang keliru berarti melalui pendidikan manusia mengetahui antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Bebas dari ketertindasan lebih memiliki makna yang luas dan radikal.

Dapat dipahami bahwa pendidik yang humanis lebih bertindak sebagai fasilitator, pelindung, pembimbing dan mempunyai figur yang baik  seperti; disiplin, loyal, bertanggungjawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, dan misi yang diinginkan sekolah. Selain itu, termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki oleh siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang kondusif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar. Selanjutnya pendidik yang humanis juga harus menguasai materi, kelas, dan teknologi, serta memiliki sikap yang demokratis dan humanis terhadap setiap peserta didik.

  1. 2.     Pendidik yang Liberasi

Al Qur’an penuh dengan pesan tentang pembebasan dari penindasan dan ketidakadilan, karena seluruh sejarah Nabi Muhammad saw. berisi tentang pembebasan dari egoitisme kolektif suku Quraisy. Teks al Qur’an dapat diturunkan menjadi empat hal, yaitu amal, mitos, ideologi, dan ilmu. Islam sehari-hari adalah Islam amal yang harus selalu ada sepanjang masa. Mitos sebagai sistem pengetahuan sudah ketinggalan zaman, meskipun dalam dunia sekarang masih ada orang yang hidup dalam dunia mitos.

Dalam hal pendidikan, pendidikan juga harus mampu membebaskan manusia, artinya setelah manusia mengenal dan memperoleh sesuatu dari pendidikan, ia menjadi terbebas, bukan menjadi semakin terbelenggu. Lahirnya neoliberalisme yang merupakan rekonstruksi terhadap paradigma ekonomi kapitalis telah menjadikan kondisi masyarakat menjadi semakin terpuruk. Kemiskinan, pengangguran, kriminal, penggusuran, biaya pendidikan mahal, adalah dampak terbesar dari neoliberalisme. Secara tidak langsung penindasan telah terjadi di mana-mana, menimpa siapapun dan kapanpun. Manusia menjadi semakin dijauhkan dari esensi kemanusiaannya. Dengan kondisi yang seperti itu maka pendidikan dituntut untuk mampu mengeluarkan manusia dari segala bentuk penindasan. Mengeluarkan manusia dari segala bentuk penindasan juga termasuk objektifikasi dari berjuang di jalan Allah swt.

Pendidik yang membebaskan (liberasi) adalah pendidik yang mampu untuk membimbing peserta didik untuk memahami dan mengarahkan peserta didik sebagai usaha untuk memerdekakan dan membebaskan dari kebodohan, ketertindasan dari sebuah sistem, keterbelakangan sosial-ekonomi (kemiskinan) serta menegakkan rasa keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan. Sehingga peserta didik mampu menyadari akan hal tersebut, dan sebuah cita-cita yang mulia untuk menanamkan kesadaran bahwa proses pendidikan adalah sebuah proses yang membebaskan bukan membelenggu.

  1. 3.     Pendidik yang Transendensi

Dimensi transendental adalah bagian sah dari fitrah kemanusiaan sebagai bentuk persentuhan dengan kebesaran Tuhan. Jika banyak yang sepakat bahwa abad ke-21 adalah peradaban postmodernisme, maka salah satu ciri dari postmodernisme adalah semakin menguatnya spiritualisme, yang salah satu tandanya adalah dedifferentiation, yaitu agama akan menyatu kembali dengan dunia. Bagi umat Islam, dedifferentiation ini bukanlah hal yang baru, mengingat dalam Islam sendiri tidak meletakkan urusan akhirat tersendiri, dan urusan dunia terpisah sendiri juga. Bagi orang Islam, urusan dunia, eksistensi selama hidup di dunia akan mempengaruhi kehidupan akhirat kelak. Amal di dunia bukan hal yang sia-sia yang tidak akan pernah diperhitungkan, tapi akan mendapatkan balasan di kehidupan akhirat. Oleh karena itu, menurut Kuntowijoyo, sudah selayaknya jika umat Islam meletakkan Allah SWT sebagai pemegang otoritas, Tuhan Yang Maha Obyektif, dengan 99 Nama Indah.

Transendensi adalah dasar dari humanisasi dan liberasi. Transendensi memberi arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Transendensi dalam Ilmu Sosial Profetik di samping berfungsi sebagai dasar nilai bagi praksis humanisasi dan liberasi, juga berfungsi sebagai kritik. Dengan kritik transendensi, kemajuan teknik dapat diarahkan untuk mengabdi pada perkembangan manusia dan kemanusiaan, bukan pada kehancurannya. Melalui kritik transendensi, masyarakat akan dibebaskan dari kesadaran materialistik di mana posisi ekonomi seseorang menentukan kesadarannya menuju kesadaran transendental. Transendensi akan menjadi tolok ukur kemajuan dan kemunduran manusia.

Pendidikan yang mampu mengarahkan kepada hal yang berkaitan dengan kebesaran Tuhan (transendensi) merupakan wujud dari pengharapan seorang pendidik terhadap sistem pendidikan yang belum menemukan konsep yang matang. Diharapkan pendidikan mampu untuk memanusiakan manusia, membebaskan manusia dari segala hal yang merugikan serta yang lebih penting adalah dengan pendidikan manusia mampu mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, untuk membimbing seorang manusia (peserta didik) mengenal Tuhannya dibutuhkan pendidik profetik yang mampu membangkitkan kesadaran peserta didiknya untuk lebih bersentuhan dengan kekuasaan Tuhan.

Dari pemahaman diatas, dapat diartikan bahwa pendidik yang transendensi adalah pendidik yang mampu membimbing dan membangkitkan kesadaran peserta didiknya bahwa ada sesuatu kekuatan yang mengatur kehidupan ini yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tidak hanya itu pendidik transendensi mampu untuk berusaha menangkap sesuatu (materi, dll) dari aspek ketuhanan, nilai spiritual, atau dalam teologi Islam kepercayaan kepada Tuhan, kitab, yang gaib, dan hari akhir, yang mampu diimplementasikan dan ditarnsformasikan kepada peserta didik.

Penutup

Konsep pendidik profetik ini belum selesai sampai disini, masih banyak hal yang harus dibahas dan dipahami oleh para pendidik. Baik itu pendidik baru atau baru pendidik (guru baru atau baru guru), sehingga nantinya pendidik mampu memberikan kontribusi yang maksimal dalam dunia pendidikan. Mendidik membutuhkan proses yang panjang karena pendidikan merupakan penentu masa depan Indonesia kedepannya, sehingga dibutuhkan pendidik yang tidak hanya mengajar saja melainkan pendidik yang mampu memahami konsep kemanusiaan, kebebasan, dan yang paling terpenting pendidik yang mampu menghantarkan anak didiknya bersentuhan dengan kebesaran Tuhan.


[1] Disampaikan pada diskusi rutin KODAMA Minggu, 25 Nopember 2012

[2] Guru baru dalam dunia Pendidikan, Alumni YPI. Al-Kamiliyyah

About YPI. Al-Kamiliyyah

Yayasan Pendidikan Islam Al-Kamiliyyah, Bekasi meliputi, 1. Pengajian Umum (bapak-bapak dan ibu-ibu) 2. Pondok Pesantren (putra/i) 3. SDIT 4. SMP Al-Kamiliyyah Boarding School 5. KBIH dan Umrah (diakui pemerintah setempat) 6. Klinik Pengobatan

Posted on 3 Desember 2012, in Artikel and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. artikel ini bagus. information n inspiring..
    tp, artikel yang diracik dalam epistemologi pendidkan ini tidak relevan dengan judul awal yang di maksud.
    pada awalnya, saya tertarik pada kata “guru baru dan baru guru”. namun tidak menjelaskan pengertian dari keduanya. sebab guru baru dan baru guru itu bberbeda maknanya.
    trimksh.. salam education for all!

  2. sarjana muda yang produktif,,, sukses untuk semua para cendekia YPI. Al-Kamiliyyah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: