Kesadaran dan Kepahitan tak ada jawabannya


Yogyakarta, Jum’at 12 Januari 2012 10.10 Wib

Kesadaran dan Kepahitan tak ada jawabannya

Oleh Dede Jalaluddin Soleh Kamil

Dipagi itu, aku tak merasa ada yang berbeda dengan pagi-pagi yang telah ku lewati seperti biasanya, mungkin kejadian ini tidak hari ini akan tetapi peristiwa ini terjadi sudah hari yang ketiga dimana ada yang berbeda padanya, saat itu mungkin hanya saat itu saja, ternyata perkiraan ku meleset mungkin ini seperti ramalan bintang yang setiap ada meleset adapula yang hampir terjadi sama persis. Aku pun bertanya-tanya pada hatiku “kenapa ini wahai Tuhan, ada apa ini?” gumamku dengan hati agak sesak. Sesekali ku pandangi raut wajahnya tetapi dia malah menepis dengan wajah sinis, ku dekati dengan ada harapan yang mungkin aku dapat jawaban yang ku cari, namun apa yang ku dapati hanya luka bertambah. Seakan aku adalah makhluk yang tak dianggap bahkan menganggap aku seonggok patung, seperti patung selamat datang dijakarta sana. Dihari ini, didalam kamar yang memang sering aku beristirahat merasa fikiranku terganggu, seandainya aku tahu apa salahku akupun akan memperbaiki dimana salah yang ku perbuat padanya. Mataku ku sudah lelah, untuk menatapnya, tangan ini lemas saat ingin berjabat dan mulut ini terkunci saat ku ingin menyapanya, dipesantren yang ku tinggali ini, seakan menjadi bom merang, sudah kesekian perasaan ini muncul, namun, ku selalu menyimpannya dalam diri, inilah puncak dimana ubun-ubun ku merasa mendidih, hati ini sesat dan jantung yang berdetak kencang mungkin bukan lelah yang karenanya berolah raga akan tetapi lelah karena fikiran-fikiran itu menghantui hingga aku menutup mata dan dipagi saat mata ini masih ingin bermimpi, tapi, dia hadir dalam bunga yang ku harap dia tidak hadir dalam mimpiku.

Wahai kau airmataku kau, hanyalah engkau saksi saat ku kehilangannya, wahai udara pagi ku harap sadarkan dia dan berikan kabar padanya bahwa aku ingin meminta jawaban yang ku cari, sehingga cerita ini tak seperti dalam film-film atau sinetron yang beratus bahkan beribu-ribu episode. Saat ku tulis ini aku merasa berada titik sadar dan tidak, dimana saat ku tulis diary ini, hanya jemari dan fikiranku yang memainkan keyboard dalam laptop ku, bahkan kata-kata yang muncul didalam tulisan ini dalam keluar dalam hatiku yang darimana dia sebagai skenario pemegang lakon, jasadku hanyalah sebagai pemain dalam lakon.

Dari akhir diary hari ini ku ucapkan terima kasih atas yang apa yang kamu berikan terhadap warna hidup sehingga memberikan pelangi dimana aku yang hitam penuh dosa, dan engkau sebagai orang sufi hadir dalam cerita yang berhidupkan dengan nash-nash Tuhan dan nash nash Nabi. Mungkin aku tak seperti dirimu yang sufi dimana dalam setiap kata yang terucap darimu adalah benar dan aku hanyalah seorang awam yang penuh dosa sehingga aku bukan bahkan tak layak bergulat dan bergaul denganmu karena aku tak sanggup bahkan aku tak bisa mencapai tingkatanmu. Ku teringat sebuah syair Maher Zain “ Aku bersyukur disini kawan di kalbuku mengiringi dan padamu ingin ku sampaikan kau cahaya diri, dulu diriku palingkan dari Tuhan, hingga kau hadir rubah segalannya, sepanjang hidup aku bersyukur atas hadirmu kau telah selamatku” untuk memperbaiki atas apa yang selama ini aku salah dalam berjalan “bersama mu ku sadari inilah hidup” yang diberikan Tuhan agar kita tak berpaling dari atas apa yang termaktub dalam surat Al-Fatihah.

Krapyak, Sabtu, 13 Januari 2012
Ku awali dengan kata bismillahirohmanirohim
Dipagi yang insyaalloh berkah ini, ku tak tertidur seperi biasanya, mungkin masih ada perasaan yang menyesakkan dada, tapi, aku harus berfikir positif karena dipagi ini aku ingin membuang semua rasa su’udzhon kepada makhluk ciptaan Alloh SWT. Setidaknya dipagi ini dimana embun pagi menetes, udara yang masih asri, pepohonan yang masih basah, bukan karena embun, tapi, karena hujan yang semalam mengguyur desa krapyak sekitar setengah jam, tanah-tanah yang masih becek terlihat, sehingga harus berhati-hati untuk berjalan kekamar mandi yang tak jauh dari kamar dimana saya istrirahat. Suara adzan awal terdengar dikejahuan sana. Suara pujian-pujian asmaul husna terdengar hingga menembus dinding kamar, aku yang masih asyik begelut didepan laptop merasa terganggu mungkin karena masih pagi dan aku yang tak tidur dari semalam. Namun, aku masih, ingat akan waktu suasana ramadhan karena pujian yang dibaca begitu tak aneh ditelingaku, aku yang masih asyik bergelut dengan mata yang agak merah menunggu tiba waktu adzan subuh, tak terasa mataku hampir saja terpejam, karena rasa kantuk yang hadir dibeberapa menit adzan subuh berkumandang.

Setelah shalat subuh aku lantas menghampiri laptop yang tadi masih dibiarkan menyala dikamar, yang dari tadi sedang discan memang membutuhkan banyak waktu untuk menscan virus yang hidup dilaptop ku, sengaja ku scan sebab khawatir laptop ku menjadi ladang atau ternak virus. Dipagi yang masih sepi ku berharap ada perubaha yang signifikan bagi perjalanan hidup yang telah ku lalui kemarin, sehingga hasil dari hari yang lalu bisa ku tambah dengan ungkapkan rasa syukur kepada yang maha rahman.

Suara ayam menadakan mereka siap bersaing untuk mencari rizqi yang berada disekitar tempat mereka biasa mencari makan, begitu juga kita sebagai makhluk yang berakal apakah akan kalah dengan seekor ayam yang bersemangat, dengan sekelompok semut yang bergotong royong dan bekerjasama dalam mencari makan.

Tak terasa cahaya mentari mulai masuk keruang amar lewat jendela, isntalasi dan kaca sehingga membentuk bayangan yang indah, aku tinggal dikamar blok el-baru ini tak sendiri tapi terdapat sembilan kawan sehingga tiap hari kami diruang yang lumayan cukup kecil ini, tetap berbahagia walau harus berdesak-desakkan ketika beranjak tidur tak ayal aku dan teman sekamar berebut tempat tidur yang paling strategis dan berebut bantal ini yang memberikan warna baik ketika mau tidur begitu pula saat bangun tidur. Aku sendiri berasal dari Bekasi dan teman-temanku diberbagai kota di jawa tengah, seperti pak Yan dan Faiz dari brebes, Yeri lampung Ihksan purwekerto, Andrian bogor, Faiq Cirebon dan Hartanto purwerejo.

Siang terasa begitu cepat, akupun bergegas untuk mandi, setelah mandi sekitar beberapa meter dari kamar mandi dekat bak wudhu aku terjatuh aku lekas bangun dan menuju bak tempat wudhu membersihkan luka dan pasir yang melumuri kaki dan tangan yang masih mengalir darah segar dilutut kaki kanan dan kiri begitu juga ditangan bagian kiri ku yang lecet terkena bebatuan dan semen. Memang terasa amat perih, perih ini lebih sakit daripada yang ku rasa sangat, namun, disana aku berusaha untuk menahan luka dan rasa perih itu, agar kawan-kawan yang melihatku terjatuh tidak merasa khawatir dengan keadaanku saat itu, dengan berjalan tertatih aku masuk kekamar untuk mengambil uang dilemari untuk membeli hansaplas agar luka yang masih terbuka, tidak terjadi inpekasi akibat bakteri yang menempel dilkukaku.

Malampun tiba dengan diiringi suara adzan dibeberapa masjid yang saling sahut menyahut memanggil ummat muslim agar melaksanakan shalat magrib berjama’ah baik dimasjid, mushola atau rumah. Setelah melaksanakan shalat magrib aku langsung mengambil Al-Qur’an yang berada dirak yang tertata rapih bersama deretan beberapa kitab-kitab kuning dan buku-buku pengetahuan agama islam. Tadarusan yang aku targetkan selama enam bulan harus khatam dan setelah itu dilanjutkan dengan hafalan yang harus aku setorkan kepada ustad setiap ba’da isya.

Waktu isya tiba aku yang masih sibuk dengan setoran hafalanku didepan ustad dengan terbata-bata dengan mengingat-ingat bagian ayat-ayat selanjutnya agar aku tidak mengulangi atau bolak balik hafalannya. Setelah menghafal aku bergegas ke mushola untuk ikut shalat berjama’ah dengan santri-santri yang sudah setor hafalan ke ustad dan gus.

Akhir dari cerita yang ku alami hari ini begitu membekas hingga waktu yang amat lama, ini menjadi sebuah peringatan bagiku, bahwa ketika ku terjatuh aku harus terbangun kembali jangan membiarkan sang putus asa membiarkan merasuki aku saat terjatuh itu, akupun sadari ketika aku terjauh aku membutuhan seorang kawan yang bisa membantu karena tanpa seorang kawan aku tidak bisa sepenuhnya terbangun dari jatuh.
Semoga hari yang kulewati hari ini bisa memberikan pesanan yang bisa menjadikan kita lebih baik dari hari-hari kemarin.
Aminnnnnnn………..

*) Adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pimpinan Redaksi Majalah el-Tasyriih

About YPI. Al-Kamiliyyah

Yayasan Pendidikan Islam Al-Kamiliyyah, Bekasi meliputi, 1. Pengajian Umum (bapak-bapak dan ibu-ibu) 2. Pondok Pesantren (putra/i) 3. SDIT 4. SMP Al-Kamiliyyah Boarding School 5. KBIH dan Umrah (diakui pemerintah setempat) 6. Klinik Pengobatan

Posted on 4 Januari 2013, in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: